Pariwisata Paris Uji Dampak AI bagi Perjalanan Wisata
Paris kembali menjadi pusat perhatian dunia perjalanan. Pada 28 dan 29 Oktober, Global Resilience Network (GRN) akan menggelar Global Travel Futures Forum di kota itu untuk membahas bagaimana kecerdasan artifisial (AI) mengubah cara orang mencari, merencanakan, memesan, dan menjalani perjalanan. Bagi siapa pun yang mengikuti perkembangan pariwisata Paris dan industri perjalanan global, agenda ini menjadi salah satu yang paling layak dicermati.
Forum ini diselenggarakan bersama Atout France, European Travel Commission, European Tourism Association, dan Sorbonne University. Sekitar 250 pemimpin senior dari sektor perjalanan, teknologi, keuangan, pemerintahan, destinasi, dan akademisi akan berkumpul selama dua hari penuh. Pertanyaan intinya bukanlah jalur AI mana yang akan menang, melainkan bagaimana organisasi dan wisatawan dapat tetap berfungsi di tengah sistem-sistem yang belum tentu berbagi aturan, infrastruktur, atau asumsi yang sama.

Lima Jalur AI yang Bertemu di Paris
Dunia tidak sedang bergerak menuju satu masa depan AI yang tunggal. Amerika Serikat, Eropa, China, Timur Tengah, dan India mengembangkan sistem yang berbeda, masing-masing dibentuk oleh pendekatan tersendiri terhadap inovasi, kedaulatan, kepercayaan, data, dan skala. Perbedaan itulah yang coba dipertemukan GRN dalam satu ruangan di Paris, lalu diuji maknanya bagi ekonomi perjalanan global.
Sesi khas forum bertajuk You’ve Only Seen One Future: Five AI Pathways Meet in Paris akan membandingkan kekuatan yang membentuk AI di Amerika Serikat, Eropa dan Inggris, China, Timur Tengah, serta India. Sesi-sesi berikutnya menguji jalur-jalur tersebut terhadap pengalaman perjalanan wisatawan, mulai dari identitas, pembayaran, dan mobilitas hingga interoperabilitas, tata kelola data, etika, dan peran manusia. Dengan cara ini, diskusi tidak berhenti pada teori, tetapi menyentuh hal-hal yang benar-benar dialami pelancong.
Mengapa Perjalanan Jadi Ajang Uji bagi Pariwisata Paris
Perjalanan memperlihatkan tantangan ini lebih cepat dibanding hampir semua sektor lain. Satu perjalanan bisa melintasi batas negara, maskapai, bandara, jaringan kereta, hotel, sistem pembayaran, pemeriksaan identitas, dan platform digital sekaligus. Ketika agen AI mulai mencari, merencanakan, memesan, membayar, dan merespons gangguan atas nama wisatawan, tidak ada satu perusahaan atau satu negara pun yang mengendalikan seluruh pengalaman itu.
Alih-alih hanya memamerkan perangkat AI satu per satu, forum ini menghadapkan para pemimpin industri pada sejumlah pertanyaan yang kini semakin nyata:
- Siapa yang mengorkestrasi sebuah perjalanan yang tidak dikendalikan oleh satu organisasi pun?
- Siapa yang memiliki identitas dan data ketika wisatawan melintasi batas negara?
- Bagaimana agen AI, sistem pembayaran, dan jaringan mobilitas yang saling bersaing akan berkomunikasi?
- Di titik mana penilaian manusia harus tetap memegang kendali?
Pertanyaan-pertanyaan itu sangat relevan bagi pariwisata Paris, kota yang setiap tahun menyambut wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Semakin banyak keputusan perjalanan diserahkan kepada agen otonom, semakin besar pula kebutuhan akan aturan yang jelas soal data, identitas, dan tanggung jawab. Di titik inilah resiliensi diuji, bukan dengan memilih satu sistem, melainkan dengan kemampuan beroperasi di banyak sistem sekaligus.
“AI Tanpa Hype”: Keynote Pembuka dari Luc Julia
Salah satu momen paling dinanti adalah keynote pembuka dari Dr Luc Julia di Hôtel de l’Industrie pada 29 Oktober. Ia dikenal sebagai perintis di bidang AI dan perangkat terhubung, salah satu pencipta Siri, mantan Chief Scientific Officer Renault Group — tempat ia menerapkan avatar LLM pertama di dunia di dalam mobil — serta mantan CTO dan SVP Inovasi Samsung. Ia juga menulis buku berjudul There Is No Such Thing as Artificial Intelligence.
Dalam sesi bertajuk AI Without the Hype: What Artificial Intelligence Can and Cannot Do, Julia akan menantang klaim yang berlebihan tentang kecerdasan mesin. Ia mengupas di mana kemampuan teknologi berhenti dan di mana tanggung jawab manusia dimulai. Setelah paparannya, ia akan berbincang dengan Rajan Datar, presenter BBC yang juga menjadi host forum ini.
Pandangan Julia sendiri cukup menggugah untuk dijadikan pegangan. “Kalau saya harus mengatakan sesuatu hari ini, itu adalah: bernapaslah, AI tidak akan membunuh kita. Tapi juga: takutlah pada diri kita sendiri, bukan pada AI,” ujarnya. Kutipan itu merangkum nada forum — kritis terhadap hype, namun tidak menutup mata pada perubahan yang sedang berlangsung.
Siapa Saja yang Sudah Dikonfirmasi Hadir
Sejumlah nama besar telah memastikan kehadiran mereka di Paris Forum, antara lain:
- Eduardo Santander, CEO European Travel Commission (ETC)
- Maximilian Strotmann, Director General dari Tourism Unit, European Commission
- Tom Jenkins, CEO European Tourism Association (ETOA)
- Adam Oubieh, CEO ATOUT France
- Leon Li, Vice President of Public Affairs, dan Ada Xu, Director International dari Alibaba dan Fliggy
- Rylan Henriques, Managing Director and Partner di BCG
- Javier Cabrerizo, Chief Strategy, Transformation and AI Officer, dan Carlotta Galvin, Head of ESG, keduanya dari HBX Group
- Philippe Person, Director of Investment di Caisse des Dépôts
Selain nama-nama tersebut, akan hadir pula perwakilan senior dari Alibaba Cloud dan Sabre, GEO Tourist, MMGY, G2A, Rednote, serta Worldia. GRN menyebut daftar pembicara dan mitra program akan terus bertambah dan diumumkan kemudian. Komposisi peserta yang beragam itu penting agar pembahasan soal AI tidak berhenti pada satu sudut pandang saja.
Kesenjangan Adopsi AI yang Semakin Melebar
Tema besar yang mengorganisasi seluruh forum adalah resiliensi. Resiliensi di sini tidak dimaknai sebagai memilih model atau kawasan yang paling tepat, melainkan sebagai kapasitas untuk beroperasi di semua model tersebut. Menariknya, kesenjangan adopsi AI justru terlihat semakin melebar, bukan menyempit.
Data European Commission yang dikutip GRN saat mengumumkan misi China-nya mencatat penggunaan AI di perusahaan Uni Eropa sebesar 13,5 persen pada 2024. Sementara itu, survei Eurostat tahun 2025 menempatkannya di angka 20,0 persen, dengan rentang dari 42,0 persen di Denmark hingga 5,2 persen di Romania. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kesiapan tiap negara terhadap AI sangat tidak merata, sebuah realitas yang penting dipahami siapa pun yang bergerak di sektor pariwisata.
Generasi Muda Membuka Percakapan Lebih Dulu
Sebelum acara utama dimulai, GRN membuka rangkaian forum pada 28 Oktober di Sorbonne University. Program akademik dan antar-generasi ini mengeksplorasi AI, perilaku wisatawan, masa depan tenaga kerja, dan gambaran pariwisata pada 2030. Di dalamnya akan dipaparkan temuan survei Generasi Z serta diskusi bersama pelaku industri.
Acara utama, yaitu executive Forum, menyusul keesokan harinya pada 29 Oktober di Hôtel de l’Industrie. Pemisahan ini memberi ruang bagi perspektif yang lebih panjang: bagaimana generasi yang tumbuh bersama AI memandang perjalanan? Jawaban mereka bisa menjadi petunjuk arah bagi industri pariwisata Paris dan dunia pada tahun-tahun mendatang.
Bagian dari Program Internasional yang Berkelanjutan
Paris adalah salah satu panggung besar dalam program eksekutif AI internasional milik GRN. Program ini dimulai bersama ETC dan Atout France dengan mengkaji nilai sistem AI China, lalu berlanjut ke sesi sehari penuh di kantor pusat Alibaba di Hangzhou pada Mei 2026. Pekan lalu, GRN juga menyelenggarakan dua sesi eksekutif di Arabian Travel Market di Dubai untuk mengkaji bagaimana AI beroperasi di sepanjang perjalanan wisatawan dan apa yang tersisa dari keunggulan merek ketika agen otonom merencanakan, memesan, dan mengelola perjalanan.
Rangkaian itu masih berlanjut setelah Paris. Program akan diteruskan di World Travel Market London pada 3–5 November dan kembali lagi ke China pada Mei 2027. Bagi kami di Pondok, jejak program semacam ini menarik untuk diikuti karena perlahan mengubah cara wisatawan berinteraksi dengan destinasi yang mereka kunjungi.
Perlu dicatat, keikutsertaan dalam Paris Forum bersifat undangan. Pertanyaan seputar partisipasi, kemitraan, dan media dapat disampaikan langsung kepada penyelenggara melalui kanal kontak resmi mereka.
Apa yang berlangsung di Paris pada 28 dan 29 Oktober bukan sekadar konferensi teknologi. Forum ini mempertemukan lima jalur AI yang berbeda dengan satu industri yang selalu bergerak lintas batas, sekaligus menempatkan pariwisata Paris sebagai contoh paling nyata betapa rumitnya sebuah perjalanan di era digital. Dari identitas dan pembayaran hingga tata kelola data dan peran manusia, semuanya dibahas dengan satu benang merah: resiliensi.
Bagi para pelancong, perubahan ini mungkin terasa perlahan, mulai dari cara memesan tiket hingga cara menangani gangguan di tengah perjalanan. Menyimak perkembangan seperti ini membantu kita memahami ke mana arah dunia wisata, sekaligus menikmati perjalanan dengan lebih siap dan tenang. Selamat merencanakan liburan berikutnya, dan sampai jumpa di catatan perjalanan kami selanjutnya. — Pondok