WTTC Targetkan 1 Juta UMKM Pariwisata Naik Kelas
Ada kabar besar dari industri perjalanan dunia: World Travel & Tourism Council (WTTC) mencanangkan ambisi untuk membawa satu juta UMKM pariwisata agar merasakan manfaat dari komunitas Together in Travel. Program ini dirancang sebagai jaring dukungan bagi pelaku usaha mandiri dan bisnis yang sedang bertumbuh, mulai dari riset dan pengetahuan gratis, panduan praktis, komunitas global, hingga advokasi yang lebih kuat di hadapan para pembuat kebijakan. Tujuannya sederhana namun ambisius: memahami betul apa yang menjadi prioritas usaha kecil, menyingkirkan hambatan pertumbuhan, dan menjawab kebutuhan mereka secara nyata.
Pengumuman ini disampaikan dalam ajang WTTC Global Summit di Malta, sebuah pertemuan yang dihadiri lebih dari 1.000 delegasi, termasuk lebih dari 200 CEO perusahaan perjalanan dan pariwisata terkemuka dunia serta sejumlah pemimpin pemerintahan. Di forum inilah hasil riset terbaru Together in Travel dipaparkan, menegaskan betapa besar kontribusi UMKM pariwisata bagi perekonomian berbagai negara. Bagi siapa pun yang gemar berwisata, pembahasan ini terasa relevan karena di tangan usaha kecil inilah pengalaman perjalanan yang paling berkesan biasanya lahir.

Mengapa Satu Juta UMKM Pariwisata Jadi Target Besar
Di balik rencana ambisius ini ada kenyataan yang jarang disadari wisatawan. Usaha kecil dan menengah menyumbang lebih dari 85 persen bisnis perjalanan dan pariwisata di seluruh dunia, menjadikan mereka tulang punggung destinasi, komunitas lokal, dan pengalaman berkunjung. Artinya, hampir setiap pengalaman wisata yang kita nikmati—dari penginapan butik, pemandu lokal, kedai makan keluarga, hingga penyedia tur petualangan—bertumpu pada jaringan UMKM pariwisata.
Melalui komunitas Together in Travel, WTTC berkomitmen menyediakan sejumlah dukungan yang sifatnya praktis dan bisa langsung dipakai. Pelaku usaha akan mendapatkan akses ke riset dan pengetahuan tanpa biaya, panduan yang aplikatif, serta ruang bertemu dengan sesama pegiat industri dari berbagai negara. Selain itu, WTTC memperkuat advokasi agar suara bisnis kecil ikut terdengar dalam diskusi kebijakan tentang keterampilan, pembiayaan, digitalisasi, dan akses pasar.
Bagi para pelancong, langkah ini punya efek berantai yang menarik. Ketika usaha kecil tumbuh lebih sehat, pilihan pengalaman wisata di suatu destinasi ikut bertambah variatif, pelayanannya membaik, dan cerita yang bisa dibawa pulang jadi lebih kaya. Dukungan terhadap UMKM pariwisata pada akhirnya bukan sekadar persoalan bisnis, melainkan soal menjaga keaslian sebuah tempat tetap hidup.
Dampak Ekonominya Tidak Main-Main
Riset terbaru yang dipresentasikan di Malta menunjukkan angka yang membuat banyak pihak terhenyak. Jika produktivitas UMKM naik 10 persen saja, sektor ini berpotensi membuka tambahan Produk Domestik Bruto langsung dari perjalanan dan pariwisata hingga US$63 miliar di delapan perekonomian utama dunia. Bahkan kenaikan yang lebih moderat, yakni 5 persen, diperkirakan tetap mampu menghasilkan tambahan sekitar US$31 miliar.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik di atas kertas. Nilai sebesar itu menggambarkan betapa besar tenaga ekonomi yang tersimpan pada usaha-usaha kecil yang tersebar di jalan-jalan kota, desa wisata, dan kawasan pesisir. Peningkatan produktivitas bisa datang dari hal-hal yang terdengar sederhana, misalnya pemasaran digital yang lebih rapi, sistem pemesanan yang efisien, atau pelatihan layanan bagi staf. Namun dampaknya terasa luas, mulai dari pendapatan keluarga hingga daya tarik destinasi secara keseluruhan.
Karena itulah WTTC menempatkan pemahaman terhadap kebutuhan pelaku usaha sebagai titik awal. Riset ini akan menjadi bahan advokasi kepada pemerintah dan lembaga internasional, agar kepentingan bisnis kecil tercermin sejajar dengan kepentingan industri besar dalam setiap perumusan kebijakan.
Pesan Langsung dari WTTC
Presiden & CEO WTTC, Gloria Guevara, menegaskan bahwa usaha kecil dan menengah berada di jantung industri perjalanan dan pariwisata. Menurutnya, merekalah yang menciptakan pengalaman khas, menopang kehidupan komunitas, dan membantu menyebarkan manfaat pariwisata ke lebih banyak orang. Ia juga menyoroti bahwa temuan riset ini akan memperkuat advokasi WTTC di ranah kebijakan, khususnya pada isu keterampilan, pembiayaan, digitalisasi, dan akses pasar.
Guevara secara terbuka mengajak setiap bisnis perjalanan dan pariwisata yang berdiri sendiri untuk bergabung dengan Together in Travel. Ia menekankan bahwa keikutsertaan itu gratis dan memang dirancang untuk membantu mereka bertumbuh. Ajakan ini menyiratkan satu hal penting: pertumbuhan industri tidak akan merata jika usaha kecil dibiarkan berjalan sendiri.
Suara dari Panggung Malta
Diskusi mengenai masa depan usaha kecil ini juga mengemuka dalam sesi panel bertajuk “Unlocking the Power of Travel & Tourism SMEs” di WTTC Global Summit. Forum tersebut mempertemukan Matthew Upchurch, Chairman & CEO Virtuoso sekaligus Chairman Together in Travel; Andrea Grisdale, CEO & Pendiri IC Bellagio; serta Julian Kassum, Deputy Secretary General dari International Chamber of Commerce (ICC). Bersama-sama mereka menelaah cara sektor ini bisa lebih baik mendampingi UMKM pariwisata dalam meraih peluang baru, mengadopsi teknologi, membangun ketahanan usaha, dan berkontribusi pada pertumbuhan yang berkelanjutan.
Salah satu kekhawatiran yang mengemuka adalah agar bisnis kecil tidak tertinggal ketika industri perjalanan mengalami transformasi teknologi, lingkungan, dan ekonomi yang berlangsung cepat. Pembahasan pun mengarah pada upaya memperluas akses terhadap keterampilan, pembiayaan, dan perangkat digital, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pengelola destinasi, dan sektor swasta. Tujuannya jelas: menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi pertumbuhan usaha kecil.
Upchurch menyampaikan pandangan yang menyentuh soal saling ketergantungan dalam industri ini. Menurutnya, usaha besar dan kecil dalam perjalanan dan pariwisata bergantung satu sama lain, dan setiap perjalanan selalu mempertemukan keduanya. Ia meyakini bahwa komunitas bisnis mandiri yang lebih kuat akan membuat sektor secara keseluruhan jadi lebih tangguh, dan karena itulah para mitra pendiri awalnya membentuk Together in Travel.
Sementara itu, Andrea Grisdale berbicara dari sudut pandang seorang pemilik usaha. Ia mengaku tahu betul betapa besar perbedaan yang bisa diciptakan oleh pengetahuan dan koneksi yang tepat. Baginya, temuan riset ini memperlihatkan besarnya peluang yang tersedia, dan tugas bersama kini adalah memahami kebutuhan para pelaku usaha lalu mengubahnya menjadi dukungan praktis yang benar-benar membantu mereka tumbuh.
Apa yang Menyusul Setelah Ini
Analisis ekonomi tersebut merupakan bagian dari program riset Together in Travel yang lebih luas. Riset yang dilakukan GSIQ melibatkan lebih dari 800 pemimpin bisnis di tujuh pasar, menggali apa saja yang menurut pelaku UMKM dibutuhkan untuk bertumbuh, termasuk akses ke pembiayaan, perangkat digital, keterampilan, dan pasar. Laporan lengkapnya nanti akan memadukan temuan ekonomi dengan wawasan bisnis untuk memetakan di mana dukungan praktis dan kebijakan bisa mendatangkan nilai paling besar.
Untuk mendukung ambisi menghubungkan, mendampingi, dan memperjuangkan satu juta usaha, Together in Travel tengah mengembangkan sebuah platform gratis. Platform ini akan menghimpun konten terpercaya, praktik terbaik, sumber daya, serta peluang untuk terhubung dengan sesama pelaku usaha dan para ahli industri. Kehadiran ruang semacam ini penting karena banyak pelaku usaha kecil merasa kesulitan menemukan rujukan yang relevan dan cepat diterapkan.
Program ini juga akan bertumpu pada kemitraan baru, salah satunya dengan International Chamber of Commerce (ICC). WTTC dan ICC menandatangani Memorandum of Understanding di Paris pada 2 Oktober, yang menjadi kerangka kerja sama dalam riset, keterlibatan bisnis, berbagi pengetahuan, dan advokasi kebijakan. Kesepakatan itu diharapkan membantu bisnis perjalanan dan pariwisata mengatasi hambatan pertumbuhan yang selama ini membelit mereka.
Kaitannya dengan Tren Wisata Lokal
Langkah WTTC ini sejalan dengan gelombang tren yang sudah lama terasa di kalangan pelancong. Makin banyak wisatawan mencari pengalaman yang otentik, bukan sekadar mengunjungi tempat terkenal lalu pulang. Mereka ingin menginap di penginapan yang dikelola keluarga, mencoba masakan rumahan, belajar kerajinan dari perajin setempat, atau mengikuti tur yang dipandu orang yang benar-benar tumbuh di daerah itu.
Karena itu, kesehatan UMKM pariwisata di sebuah destinasi sering kali menjadi cerminan kualitas pengalaman yang bisa dinikmati wisatawan. Destinasi yang usaha kecilnya tumbuh biasanya menawarkan pilihan yang lebih beragam, cerita yang lebih personal, dan jejak ekonomi yang lebih lama tertinggal di komunitas. Sebaliknya, ketika usaha kecil tersingkir, destinasi cenderung kehilangan karakternya dan terasa seragam dengan tempat lain.
Di Pondok, kami melihat pembahasan semacam ini sebagai pengingat bahwa perjalanan selalu melibatkan banyak tangan di belakangnya. Ada pemilik homestay yang menyiapkan kamar hingga larut, pemandu yang menghafal jalan setapak, dan pedagang kecil yang menyediakan sarapan di pinggir pantai. Dukungan terhadap mereka bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga soal memastikan setiap liburan memberi manfaat yang lebih merata.
Penutup
Daya tarik terbesar dari inisiatif ini bukan terletak pada besarnya angka yang disebutkan, melainkan pada arah yang hendak dituju. WTTC menargetkan satu juta UMKM pariwisata untuk tumbuh bersama melalui riset gratis, panduan praktis, komunitas global, dan advokasi yang lebih serius. Dengan lebih dari 85 persen bisnis di sektor ini digerakkan oleh usaha kecil, potensi kenaikan produktivitas senilai puluhan miliar dolar menunjukkan bahwa dampaknya bisa terasa sampai ke tingkat paling dasar: keluarga yang menggantungkan hidup dari pariwisata.
Jadi, ketika Anda merencanakan liburan berikutnya, ada baiknya memberi ruang lebih besar bagi usaha-usaha kecil di destinasi yang Anda tuju. Menginap di penginapan lokal, membeli dari pedagang setempat, atau memakai jasa pemandu komunitas adalah cara sederhana untuk ikut menjaga denyut pariwisata tetap hidup. Lagi pula, pengalaman seperti itulah yang biasanya paling lama tinggal di ingatan, jauh setelah foto-foto liburan selesai diunggah.
Penulis: Pondok